Hangatnya
pelukan terakhirmu
“Pergi sana! Jangan ganggu kami lagi,
kami udah nyaman dengan kehidupan kami tanpa kamu,” teriak mama.
Teriakan itu berawal dari kepulangan
seorang ayah yang telah 3 tahun menghilang tanpa kabar. Putri yang tadinya
tengah berbaring di kasurnya, langsung berlari ke luar rumah dan mencari tau
apa yang sebenarnya terjadi. Ketika terlihat olehnya pria kumuh yang sangat
mirip dengan sosok ayah yang sangat dinanti- nantikannya, dia langsung berlari
dan berteriak, “paaaaaaa”. Tapi sayangnya, sang mama langsung menarik dan
menahan putri yang berlari ingin memeluk ayahnya.
“Enggak sayang, kita ga membutuhkan
seorang ayah yang datang hanya saat dirinya membutuhkan kita saja. Dia lebih
memilih pergi 3 tahun bersama wanita itu. Hati mama sudah terlalu sakit,
sayang,” keluh mama. Putri tetap tidak mau mendengarkan kata mamanya dan terus
berusaha melepaskan eratan tangan mamanya. Putri sangat merindukan kasih sayang
dari ayahnya yang telah lama hilang. Putri sangat merindukan dekapan ayahnya.
Air mata Putri terus bercucuran dan matanya sudah sangat sembab. Tetapi mama
tetap menarik paksa Putri tanpa memerdulikan si ayah yang sangat membutuhkan
pengertian mereka.
Tiba- tiba rintikan hujan turun seakan
alam ikut merasakan kepedihan hati Putri. Percikan hujan itu terus turun dan
menusuk sampai ke dalam hati ayah yang sedang kesusahan untuk bangkit berdiri.
Tetesan air mata ayah dan tetesan air mata awan sudah bercampur sampai jatuh ke
tanah. Tangan mama yang menarik erat Putri menjadi melemah dan mama terdiam
sejenak sembari menangis tanpa suara. Putri yang sudah terlepas dari eratan mamanya,
tanpa berpikir lagi Putri langsung masuk dan mengunci diri di kamarnya. Suasana
menjadi lebih menyedihkan ketika sang mama menoleh ke belakang dan tidak
mendapati sosok lelaki itu lagi.
Mama jatuh berlutut dan berteriak, “papa,
mama masih sayang sama papa, tapi rasa sakit ini sudah terlalu mengoyakkan hati
mama, mama engga bisa tahan ini semua.”
Satu jam kemudian, ketika Putri membuka
tirai jendela kamarnya, dilihatnya mama sudah pingsan di depan pintu rumahnya.
Dia langsung berlari keluar, terlihat olehnya wajah yang sudah sangat pucat.
Dia bergegas menggendong mamanya masuk kerumah dan langsung menelpon Kevin
untuk segera datang kerumahnya.
“Kevin, kamu pokoknya harus ke sini
sekarang juga, mama aku pingsan Kev, aku engga tau harus gimana,” kata Putri
dengan sangat khawatir. Beberapa saat kemudian ketika Kevin sampai di rumah
Putri, Kevin langsung berinisiatif untuk membawa mama Putri ke dokter. “Yaudah,
ayo sekarang kita bawa mama kamu ke dokter, suhu badan mama kamu udah sangat
tinggi,” saran Kevin.
Di dalam mobil, Putri meraih tubuh Kevin,
memeluknya sambil menangis. Dia menjelaskan dengan terhisak hisak, “sayang,
tadi papa aku datang, tapi mama engga ngizinin papa buat masuk. Mama ngusir
papa, aku kangen banget sama papa, aku engga mau kehilangan papa lagi”.
Kevin hanya bisa terdiam dan masih
bingung dengan apa yang dikatakan pacarnya. “kamu tenang dulu sayang, bicaranya
pelan- pelan, aku engga ngerti”, balas Kevin.
Setelah tenang, akhirnya Putri
menjelaskan lagi dan beberapa saat kemudian tangisan Putri sedikit mereda
setelah mendengar respon baik dari pacarnya. Kevin berjanji akan bersama- sama
mencari ayah Putri.
Akhirnya mereka sampai di rumah sakit.
Dengan langkah pasti dokter memeriksanya. Dokter pun keluar seraya mengatakan
“Bu Ratih tidak kenapa napa, suhu badannya naik cuma karena kehujanan saja, dan
kalian bisa membawa pulang Bu Ratih kembali ke rumah. Mendengar itu Kevin dan
Putri langsung membawa mama pulang ke rumah. Setelah sampai di rumah, Kevin
membantu mama masuk ke kamarnya untuk beristirahat.
Keesokan harinya…
Putri pergi ke sekolah, seperti biasa
dijemput oleh Kevin. Kevin lalu langsung menyapa Putri, “pagi sayang, jangan
manyun mulu, senyum dong!” Putri pun yang tengah membenarkan seatbelt dengan
gemesnya mencubit pipi Kevin dan menjawab, “engga dong, ini kan lagi senyum ke
kamu”. Setelah sedikt bermanja- manja, Kevin pun langsung menggas mobil dengan
kecepatan yang lumayan tinggi.
Tiba- tiba di tengah perjalanan, Kevin
hampir menabrak seorang lelaki seperti gembel. Untungnya, Kevin bisa
mengendalikan mobilnya. Kevin lalu turun dan membantu lelaki itu, tampak oleh
Kevin badan lelaki itu sudah penuh dengan luka. Dengan rasa iba, Kevin membawa
bapak itu naik ke mobil dan berencana membawanya ke rumah sakit. Sementara itu,
Putri masih belum tahu bahwa lelaki itu sebenarnya adalah ayahnya, karena wajah
lelaki itu sangat tidak mirip dengan paras ayahnya. Kevin lalu bertanya kepada
bapak itu tentang apa yang telah terjadi pada dirinya. Ketika bapak itu mulai
menjelaskan bahwa semalam ia dihajar oleh preman preman yang mabuk bahkan
hampir mati tertusuk pisau, Putri dengan hati terkejutnya melihat ke belakang
sambil bertanya “benarkah itu ayahku?” Putri langsung mengeluarkan isak
tangisnya. Kevin yang berkonsentrasi mengendarai mobil yang menuju ke rumah
sakit, dengan bingung melihat pacarnya menangis di hadapan lelaki yang duduk di
jok belakang mobilnya.
“Kevin, dia ayahku. Dia ayah yang selama
3 tahun kucari. Ayah yang telah 3 tahun menghilang dan menghapus semua kasih
sayangnya,” jelas Putri.
Putri yang tadinya duduk di samping
Kevin, langsung menyuruh Kevin memberhantikan mobil dan segera turun dan masuk
melalui pintu tengah mobil. Ia berteriak, “ papaaaaaaaa!! Papa baik- baik aja
kan? Papa engga boleh pergi lagi, Putri engga mau kehilangan papa lagi. Putri
sayang banget sama papa. Papa ayo balik!” Papa sepertinya tidak mau membuat
masalah lagi, ia tidak mau membuat keributan lagi di rumah.
Mendengar respon dari ayah Putri, Kevin
langsung menyarankan Putri untuk membawa ayahnya tinggal di rumah lain dan
bersama – sama merawat ayahnya. Putri yang masih menangis, masih sempat
tersenyum pada Kevin dan berterima kasih kepada Kevin. Sesampainya di rumah
sakit, Kevin langsung meminta bantuan pada pihak rumah sakit untuk memeriksa
ayah Putri.
Setelah beberapa jam kemudian…
Putri dan Kevin menjadi semakin cemas
akan kondisi ayah. Tak lama kemudian dokter keluar.
“Keluarga Pak Fakri?” tanya Dokter.
“Saya pak.” Jawab Kevin
“Bisa kita berbicara sebentar?” pinta
Dokter.
Dengan ragu antara menunggu Putri atau
masuk, Kevin melangkahkan kakinya ke ruangan dokter. Setelah selesai berbicara
dan keluar dari ruangan dokter, Kevin berpapasan dengan Putri yang baru saja
balik dari toilet. Wajah Kevin ditutupi dengan rasa takut seakan menyimpan
suatu rahasia.
Lalu Putri bertanya, “ kamu udah nemuin
dokter? Gimana kondisi papa?”
Kevin menjawab “baik- baik aja kok, besok
juga udah bisa pulang.”
“oh syukur deh, ohya, gimana kalo kita
beli semua peralatan buat papa, kan papa besok udah bisa balik.”
Di perjalanan ke mall, Kevin merenungkan
apakah ia seharusnya memberitahukan semua yang dikatakan dokter bahwa ayah
Putri menghidap penyakit kanker atau tidak. Kevin masih takut kalau kalau Putri
akan histeris mendengar kabar itu.
Keesokan harinya…
Ayah Putri pun dibawa ke rumah yang telah
disediakan oleh Kevin dan Putri, dengan seorang perawat yang akan selalu
merawatnya. Pada hari itu juga, Kevin menegaskan kepada dirinya untuk
memberitahukan semua yang harus Putri ketahui.
“Putri, aku mau jujur tentang keadaan
ayah kamu. Sebenarnya dokter bilang ke aku, kalo ayah kamu sudah sejak lama
menghidap penyakit kanker,” jelas kevin.
“Hah? Maksud kamu? Kamu ga lagi becanda
kan?” sentak Putri.
Tangisan Putri pun meledak, dia sudah
tidak tau apa yang harus dia lakukan. Sementara ia tidak ingin merepotkan
pacarnya, Kevin, akan segala finansial yang akan dibutuhkan ayahnya.
Beberapa bulan kemudian setelah ayah
Putri masuk rumah sakit…
Putri tidak tahu harus mendapatkan uang
dari siapa. Kevin sudah cukup banyak membantu. Tidak mungkin rasanya ia harus
meminta uang yang sangat banyak itu kepada Kevin. Lalu terlintas dipikirannya
untuk meminta uang kepada mamanya. Berkali-kali Putri berbohong akan penggunaan
uang yang ia minta itu. Hingga pada suatu saat, mama merasa curiga dan
berencana mengikuti Putri yang ternyata sedang bertiga di mobil dengan ayah dan
pacarnya menuju rumah kecil tempat tinggal ayahnya.
Mama Putri tidak bisa menahan emosi dan
langsung keluar dari pintu mobilnya sambil menarik Putri dari pegangan ayahnya.
“oh ini yang selama ini kamu lakukan,
nggak salah dugaan mama. Ayo balik, mama nggak nyangka kamu bakal tipuin mama
dengan semua ini. Kamu selalu minta uang dengan alasan untuk sekolah, tapi
sebenarnya untuk lelaki brengsek ini. Mama nggak mau lagi lihat muka dia,”
emosi mama meluap.
Tiba-tiba papa terjatuh dari gandengan
kevin dan putri, hampir sama seperti orang yang sesak nafas.
“Pa…pa…bangun! papaaaaa!”
“Ini semua gara-gara mama. Mama nggak
pernah tau kan kalo papa sedang menghidap penyakit kanker? Lihat semua yang
mama lakukan!” bentak Putri.
“Udah udah, sekarang ayo kita bawa mama
kamu ke rumah sakit” ajak Kevin.
Di perjalanan, masih tetap bersama Putri
dan mama yang menangis, menunjukkan rasa cemas. Ketika sampai di rumah sakit,
dokter langsung bergegas membawa ayah Putri dan memeriksanya. Beberapa jam
kemudian dokter membawa kabar baik, bahwa sang ayah telah siuman dan membaik.
Ayah berusaha memanggil mama dan Putri. Mereka datang ke ruangan itu, lalu
memeluk erat si ayah.
“Ma, mungkin ini terakhir kalinya papa
bisa ngomong sama mama, papa mau bilang kalo sebenarnya selama 3 tahun itu papa
disekap di daerah terpencil oleh teman kantor papa. Papa disiksa di sana. Papa
enggak bisa hubungin mama. Lalu teman papa itu membayar orang untuk mengatakan
kepada mama bahwa papa selingkuh dengan wanita yang mama pikirkan itu. Maaf ma,
maaf kalo papa baru bisa bilang sekarang. Papa masih sayang sama mama. I love
you a billion.”jelas papa. Mama pun terus menangis tak hentinya tanda bahwa
dirinya menyesal.
“Putri papa sayang, maafin papa udah
menghilang selama 3 tahun, maafin papa juga kalo sebentar lagi papa harus pergi
jauh ninggalin kamu. Tenang sayang, ketika nanti papa pergi, papa akan
membisikkan kepada Tuhan untuk tetap menjaga kamu,” kata sang ayah dengan
terbata – bata sambil menahan rasa sakitnya.
“Buat kamu Kevin, om udah nganggap kamu
seperti anak om sendiri, om harap ketika om sudah tidak ada lagi, kamu bisa
menjaga Putri dan tante dengan baik,” lanjut ayah dengan meneteskan air mata
lagi.
Setelah ayah Putri berhenti berbicara,
Putri, mama dan Kevin memeluk sang ayah lagi. Pada saat itu jugalah mereka
mulai tidak merasakan detak jantung sang ayah. Di situ terakhir kalinya sang
ayah merasakan kehangatan dari seorang istri dan anaknya.
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapus