Kamis, 12 Januari 2012

HER BIRTHDAY MAN

Hari ini tanggal 12 Januari 2012, tepatnya hari ulang tahun VIVI, temen aku :) 
How do you expect me to remember your birthday, when you never look any older? happy birthday!

Rabu, 11 Januari 2012

My new short story (masih ngasal)


Hangatnya pelukan terakhirmu

“Pergi sana! Jangan ganggu kami lagi, kami udah nyaman dengan kehidupan kami tanpa kamu,” teriak mama.
Teriakan itu berawal dari kepulangan seorang ayah yang telah 3 tahun menghilang tanpa kabar. Putri yang tadinya tengah berbaring di kasurnya, langsung berlari ke luar rumah dan mencari tau apa yang sebenarnya terjadi. Ketika terlihat olehnya pria kumuh yang sangat mirip dengan sosok ayah yang sangat dinanti- nantikannya, dia langsung berlari dan berteriak, “paaaaaaa”. Tapi sayangnya, sang mama langsung menarik dan menahan putri yang berlari ingin memeluk ayahnya. 
“Enggak sayang, kita ga membutuhkan seorang ayah yang datang hanya saat dirinya membutuhkan kita saja. Dia lebih memilih pergi 3 tahun bersama wanita itu. Hati mama sudah terlalu sakit, sayang,” keluh mama. Putri tetap tidak mau mendengarkan kata mamanya dan terus berusaha melepaskan eratan tangan mamanya. Putri sangat merindukan kasih sayang dari ayahnya yang telah lama hilang. Putri sangat merindukan dekapan ayahnya. Air mata Putri terus bercucuran dan matanya sudah sangat sembab. Tetapi mama tetap menarik paksa Putri tanpa memerdulikan si ayah yang sangat membutuhkan pengertian mereka. 
Tiba- tiba rintikan hujan turun seakan alam ikut merasakan kepedihan hati Putri. Percikan hujan itu terus turun dan menusuk sampai ke dalam hati ayah yang sedang kesusahan untuk bangkit berdiri. Tetesan air mata ayah dan tetesan air mata awan sudah bercampur sampai jatuh ke tanah. Tangan mama yang menarik erat Putri menjadi melemah dan mama terdiam sejenak sembari menangis tanpa suara. Putri yang sudah terlepas dari eratan mamanya, tanpa berpikir lagi Putri langsung masuk dan mengunci diri di kamarnya. Suasana menjadi lebih menyedihkan ketika sang mama menoleh ke belakang dan tidak mendapati sosok lelaki itu lagi.
Mama jatuh berlutut dan berteriak, “papa, mama masih sayang sama papa, tapi rasa sakit ini sudah terlalu mengoyakkan hati mama, mama engga bisa tahan ini semua.”
Satu jam kemudian, ketika Putri membuka tirai jendela kamarnya, dilihatnya mama sudah pingsan di depan pintu rumahnya. Dia langsung berlari keluar, terlihat olehnya wajah yang sudah sangat pucat. Dia bergegas menggendong mamanya masuk kerumah dan langsung menelpon Kevin untuk segera datang kerumahnya. 
“Kevin, kamu pokoknya harus ke sini sekarang juga, mama aku pingsan Kev, aku engga tau harus gimana,” kata Putri dengan sangat khawatir. Beberapa saat kemudian ketika Kevin sampai di rumah Putri, Kevin langsung berinisiatif untuk membawa mama Putri ke dokter. “Yaudah, ayo sekarang kita bawa mama kamu ke dokter, suhu badan mama kamu udah sangat tinggi,” saran Kevin. 
Di dalam mobil, Putri meraih tubuh Kevin, memeluknya sambil menangis. Dia menjelaskan dengan terhisak hisak, “sayang, tadi papa aku datang, tapi mama engga ngizinin papa buat masuk. Mama ngusir papa, aku kangen banget sama papa, aku engga mau kehilangan papa lagi”.
Kevin hanya bisa terdiam dan masih bingung dengan apa yang dikatakan pacarnya. “kamu tenang dulu sayang, bicaranya pelan- pelan, aku engga ngerti”, balas Kevin.
Setelah tenang, akhirnya Putri menjelaskan lagi dan beberapa saat kemudian tangisan Putri sedikit mereda setelah mendengar respon baik dari pacarnya. Kevin berjanji akan bersama- sama mencari ayah Putri. 
Akhirnya mereka sampai di rumah sakit. Dengan langkah pasti dokter memeriksanya. Dokter pun keluar seraya mengatakan “Bu Ratih tidak kenapa napa, suhu badannya naik cuma karena kehujanan saja, dan kalian bisa membawa pulang Bu Ratih kembali ke rumah. Mendengar itu Kevin dan Putri langsung membawa mama pulang ke rumah. Setelah sampai di rumah, Kevin membantu mama masuk ke kamarnya untuk beristirahat.
Keesokan harinya…
Putri pergi ke sekolah, seperti biasa dijemput oleh Kevin. Kevin lalu langsung menyapa Putri, “pagi sayang, jangan manyun mulu, senyum dong!” Putri pun yang tengah membenarkan seatbelt dengan gemesnya mencubit pipi Kevin dan menjawab, “engga dong, ini kan lagi senyum ke kamu”. Setelah sedikt bermanja- manja, Kevin pun langsung menggas mobil dengan kecepatan yang lumayan tinggi. 
Tiba- tiba di tengah perjalanan, Kevin hampir menabrak seorang lelaki seperti gembel. Untungnya, Kevin bisa mengendalikan mobilnya. Kevin lalu turun dan membantu lelaki itu, tampak oleh Kevin badan lelaki itu sudah penuh dengan luka. Dengan rasa iba, Kevin membawa bapak itu naik ke mobil dan berencana membawanya ke rumah sakit. Sementara itu, Putri masih belum tahu bahwa lelaki itu sebenarnya adalah ayahnya, karena wajah lelaki itu sangat tidak mirip dengan paras ayahnya. Kevin lalu bertanya kepada bapak itu tentang apa yang telah terjadi pada dirinya. Ketika bapak itu mulai menjelaskan bahwa semalam ia dihajar oleh preman preman yang mabuk bahkan hampir mati tertusuk pisau, Putri dengan hati terkejutnya melihat ke belakang sambil bertanya “benarkah itu ayahku?” Putri langsung mengeluarkan isak tangisnya. Kevin yang berkonsentrasi mengendarai mobil yang menuju ke rumah sakit, dengan bingung melihat pacarnya menangis di hadapan lelaki yang duduk di jok belakang mobilnya.
“Kevin, dia ayahku. Dia ayah yang selama 3 tahun kucari. Ayah yang telah 3 tahun menghilang dan menghapus semua kasih sayangnya,” jelas Putri.
Putri yang tadinya duduk di samping Kevin, langsung menyuruh Kevin memberhantikan mobil dan segera turun dan masuk melalui pintu tengah mobil. Ia berteriak, “ papaaaaaaaa!! Papa baik- baik aja kan? Papa engga boleh pergi lagi, Putri engga mau kehilangan papa lagi. Putri sayang banget sama papa. Papa ayo balik!” Papa sepertinya tidak mau membuat masalah lagi, ia tidak mau membuat keributan lagi di rumah. 
Mendengar respon dari ayah Putri, Kevin langsung menyarankan Putri untuk membawa ayahnya tinggal di rumah lain dan bersama – sama merawat ayahnya. Putri yang masih menangis, masih sempat tersenyum pada Kevin dan berterima kasih kepada Kevin. Sesampainya di rumah sakit, Kevin langsung meminta bantuan pada pihak rumah sakit untuk memeriksa ayah Putri.
Setelah beberapa jam kemudian…
Putri dan Kevin menjadi semakin cemas akan kondisi ayah. Tak lama kemudian dokter keluar.
“Keluarga Pak Fakri?” tanya Dokter.
“Saya pak.” Jawab Kevin
“Bisa kita berbicara sebentar?” pinta Dokter.
Dengan ragu antara menunggu Putri atau masuk, Kevin melangkahkan kakinya ke ruangan dokter. Setelah selesai berbicara dan keluar dari ruangan dokter, Kevin berpapasan dengan Putri yang baru saja balik dari toilet. Wajah Kevin ditutupi dengan rasa takut seakan menyimpan suatu rahasia.
Lalu Putri bertanya, “ kamu udah nemuin dokter? Gimana kondisi papa?”
Kevin menjawab “baik- baik aja kok, besok juga udah bisa pulang.”
“oh syukur deh, ohya, gimana kalo kita beli semua peralatan buat papa, kan papa besok udah bisa balik.”
Di perjalanan ke mall, Kevin merenungkan apakah ia seharusnya memberitahukan semua yang dikatakan dokter bahwa ayah Putri menghidap penyakit kanker atau tidak. Kevin masih takut kalau kalau Putri akan histeris mendengar kabar itu. 
Keesokan harinya…
Ayah Putri pun dibawa ke rumah yang telah disediakan oleh Kevin dan Putri, dengan seorang perawat yang akan selalu merawatnya. Pada hari itu juga, Kevin menegaskan kepada dirinya untuk memberitahukan semua yang harus Putri ketahui.
“Putri, aku mau jujur tentang keadaan ayah kamu. Sebenarnya dokter bilang ke aku, kalo ayah kamu sudah sejak lama menghidap penyakit kanker,” jelas kevin.
“Hah? Maksud kamu? Kamu ga lagi becanda kan?” sentak Putri.
Tangisan Putri pun meledak, dia sudah tidak tau apa yang harus dia lakukan. Sementara ia tidak ingin merepotkan pacarnya, Kevin, akan segala finansial yang akan dibutuhkan ayahnya.
Beberapa bulan kemudian setelah ayah Putri masuk rumah sakit…
Putri tidak tahu harus mendapatkan uang dari siapa. Kevin sudah cukup banyak membantu. Tidak mungkin rasanya ia harus meminta uang yang sangat banyak itu kepada Kevin. Lalu terlintas dipikirannya untuk meminta uang kepada mamanya. Berkali-kali Putri berbohong akan penggunaan uang yang ia minta itu. Hingga pada suatu saat, mama merasa curiga dan berencana mengikuti Putri yang ternyata sedang bertiga di mobil dengan ayah dan pacarnya menuju rumah kecil tempat tinggal ayahnya.
Mama Putri tidak bisa menahan emosi dan langsung keluar dari pintu mobilnya sambil menarik Putri dari pegangan ayahnya.
“oh ini yang selama ini kamu lakukan, nggak salah dugaan mama. Ayo balik, mama nggak nyangka kamu bakal tipuin mama dengan semua ini. Kamu selalu minta uang dengan alasan untuk sekolah, tapi sebenarnya untuk lelaki brengsek ini. Mama nggak mau lagi lihat muka dia,” emosi mama meluap.
Tiba-tiba papa terjatuh dari gandengan kevin dan putri, hampir sama seperti orang yang sesak nafas.
“Pa…pa…bangun! papaaaaa!”
“Ini semua gara-gara mama. Mama nggak pernah tau kan kalo papa sedang menghidap penyakit kanker? Lihat semua yang mama lakukan!” bentak Putri.
“Udah udah, sekarang ayo kita bawa mama kamu ke rumah sakit” ajak Kevin.
Di perjalanan, masih tetap bersama Putri dan mama yang menangis, menunjukkan rasa cemas. Ketika sampai di rumah sakit, dokter langsung bergegas membawa ayah Putri dan memeriksanya. Beberapa jam kemudian dokter membawa kabar baik, bahwa sang ayah telah siuman dan membaik. Ayah berusaha memanggil mama dan Putri. Mereka datang ke ruangan itu, lalu memeluk erat si ayah.
“Ma, mungkin ini terakhir kalinya papa bisa ngomong sama mama, papa mau bilang kalo sebenarnya selama 3 tahun itu papa disekap di daerah terpencil oleh teman kantor papa. Papa disiksa di sana. Papa enggak bisa hubungin mama. Lalu teman papa itu membayar orang untuk mengatakan kepada mama bahwa papa selingkuh dengan wanita yang mama pikirkan itu. Maaf ma, maaf kalo papa baru bisa bilang sekarang. Papa masih sayang sama mama. I love you a billion.”jelas papa. Mama pun terus menangis tak hentinya tanda bahwa dirinya menyesal. 
“Putri papa sayang, maafin papa udah menghilang selama 3 tahun, maafin papa juga kalo sebentar lagi papa harus pergi jauh ninggalin kamu. Tenang sayang, ketika nanti papa pergi, papa akan membisikkan kepada Tuhan untuk tetap menjaga kamu,” kata sang ayah dengan terbata – bata sambil menahan rasa sakitnya.
“Buat kamu Kevin, om udah nganggap kamu seperti anak om sendiri, om harap ketika om sudah tidak ada lagi, kamu bisa menjaga Putri dan tante dengan baik,” lanjut ayah dengan meneteskan air mata lagi.
Setelah ayah Putri berhenti berbicara, Putri, mama dan Kevin memeluk sang ayah lagi. Pada saat itu jugalah mereka mulai tidak merasakan detak jantung sang ayah. Di situ terakhir kalinya sang ayah merasakan kehangatan dari seorang istri dan anaknya.
Mayss